Latar Belakang

Pelayanan rumah sakit atau apotek pada saat ini merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang bersifat sosioekonomi, yaitu suatu jenis usaha walau bersifat sosial namun diusahakan agar mendapatkan surplus keuangan dengan cara pengelolaan profesional dengan memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi. Oleh karena itu, rumah sakit atau apotek sebagai suatu industri jasa yang mempunyai fungsi sosial dan fungsi ekonomi, kebijakan yang menyangkut efisiensi sangatlah bermanfaat untuk menjaga tetap berlangsungnya hidup rumah sakit atau apotek. Tanpa usaha efisiensi, rumah sakit jelas akan cepat bangkrut dan akan tergusur dengan makin berkembangnya rumah sakit baru sekarang ini.

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam persediaan obat adalah pengontrolan jumlah stok obat untuk memenuhi kebutuhan. Jika stok obat terlalu kecil maka permintaan untuk penggunaan sering kali tidak terpenuhi sehingga pasien/konsumen tidak puas, selain itu kesempatan untuk mendapatkan keuntungan hilang dan diperlukan tambahan biaya untuk mendapatkan bahan obat dengan waktu cepat guna memuaskan pasien/ konsumen. Jika stok terlalu besar maka menyebabkan biaya penyimpanan yang terlalu tinggi, kemungkinan obat akan menjadi rusak/kadaluarsa dan ada resiko jika harga bahan/obat turun.

Policy and Legal Framework dalam Drug Management Cycle merupakan suatu sistem kebijakan yang diatur oleh undang-undang yang menjadi dasar atau acuan untuk melakukan kegiatan kefarmasian. Terdapat 5 faktor utama dalam Drug Management Cycle yaitu seleksi (selection), pengadaan (procurement), distribusi (distribution), penggunaan (use) dan manajemen pendukung (management support).

Berdasarkan hal di atas maka Program Studi Farmasi FMIPA ULM membuat suatu rencana kegiatan. Kegiatan tersebut yaitu SEMINAR NASIONAL DAN PRESENTASI ILMIAH OPTIMALISASI PERAN APOTEKER DALAM DRUG MANAGEMENT CYCLE DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0.